ASKEP KLIEN DENGAN LABIRINITIS

ASKEP KLIEN DENGAN LABIRINITIS

 

  1. Latar Belakang

           Labirinitis pada dasarnya di kenal dua macam dan dengan gejala yang berbeda, labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis umum ( general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang mengenai hanya sebagian atau terbatas disebut labirinitis terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.

     Labirinitis adalah inflamasi telinga dalam dan dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus. Labirinitis bacterial, meskipun cukup jarang sejak dikenalnya antibiotika, paling sering terjadi sebagai komplikasi meningitis bakterial.

Sekitar 2 juta orang Amerika mengalami beberapa jenis disfungsi penciuman.   Penelitian telah menunjukkan bahwa disfungsi penciuman mempengaruhi setidaknya 1% penduduk di bawah usia 65 tahun, dan lebih dari 50% dari populasi lebih dari 65 tahun.   Indera penciuman menentukan rasa makanan dan minuman dan juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi bahaya lingkungan, seperti makanan basi, buruk dapat mempengaruhi preferensi makanan, asupan makanan dan nafsu makan. Salah satunya trauma hidung.

 

  1. 2.      TUJUAN

                                                  

2.1  Tujuan Umum

Menjelaskan konsep dan asuhan keperawatan dengan gangguan labirinitis

                                                                                                                  

2.2 Tujuan Khusus

1. Mampu melakukan pengkajian pada pasien labirinitis

2. Mampu menegakkan diagnosa pada pasien labirinitis

3. Mampu melakukan intervensi dan implementasi pada pasien penyakit labirinitis

4. Mampu melakukan evaluasi pada pasien penyakit labirinitis

5. Mampu melakukam pendokumentasian pada pasien penyakit labirinitis

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. 1.      DEFINISI

Labirinitis pada dasarnya di kenal dua macam dan dengan gejala yang berbeda, labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis umum ( general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang mengenai hanya sebagian atau terbatas disebut labirinitis terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja. Labirinitis adalah inflamasi telinga dalam dan dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus

Labirinitis adalah inflamasi telinga dalam dan dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus. Labirinitis bacterial, meskipun cukup jarang sejak dikenalnya antibiotika, paling sering terjadi sebagai komplikasi meningitis bakterial. Infeksi berkembang ke telinga dalam melalui kanalis auditorius internus atau aquaduc koklear.

 

  1. 2.      ETIOLOGI

Secara etiologi labirinitis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa. Terdapat dua bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus.

Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada labirin supurati dengan invasi sel radang ke labirin., sehingga terjadi kerusakan yan iereversibel, seperti fibrosa dan osifikasi.
Pada kedua jenis labirinitis tersebut operasi harus esgera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang – kadang diperlukan juga drenase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian antibiotika yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik.

 

  1. 3.      ANATOMI FISIOLOGI

Secara Anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Dalam perkembangannya telinga dalam merupakan organ yang pertama kali terbentuk mencapai konfingurasi dan ukuran dewasa pada trimester pertengahan kehamilan. Sedangkan telinga tengah dan luar belum terbentuk sempurna saat kelahiran, akan tumbuh terus dan berubah bentuk sampai pubertas. Secara embriologi telinga luar dan tengah berasal dari celah brankial pertama dan kedua, sedangkan telinga dalam berasal dari plakoda otik. Sehingga suaru bagian dapat mengalami kelainan, sementara bagian lain berkembang normal. Pada kebanyakan kasus telinga luar dan tengah mengalami kelainan kongenital bersama-sama, sedangkan koklea berkembang normal. Hal ini memungkinkan.rehabilitasi pendengaran pada kebanyakan kelainan telinga kongenital.

 

a)      Telinga Dalam

      Labirin mulai berdiferensiasi pada akhir minggu ketiga dengan munculnya plakoda otik (auditori). Dalam waktu kurang dari satu minggu plakoda tersebut mengalami invaginasi membentuk lekuk pendengaran, kemudian berdilatasi membentuk suaru kantong, selanjutnya tumbuh menjadi vesikula auditorius. Suatu proses migrasi,

pertumbuhan dan elongasi vesikula kemudian berlangsung dan segera membuat lipatan pada dinding kantong yang secara jelas memberi batas tiga divisi utama vesikula auditorius yaitu sakus dan duktus endolimfarikus, utrikulus dengan duktus semi sirkuler dan sakulus dengan duktus koklea. Dari utrikulus kemudian timbul tiga tonjolan mirip gelang. Lapisan membran yang jauh dari perifer gelang diserap meninggalkan tiga kanalis semisirkularis pada perifer gelang. Sakulus kemudian membentuk duktus koklearis berbenruk spiral.Secara filogenetik organ-organ akhir khusus berasal dari neuromast yang tidak terlapisi yang berkembang dalam kanalis semisirkularis untuk membentuk krista. Di dalam utrikulus dan sakulus membentuk makula dan dalam koklea membentuk organon koiti. Diferensiasi ini berlangsung dari minggu keenam sampai ke 10 fetus, pada saat itu hubungan definitive seperfi telinga orang dewasa telah siap.

 

b)     Telinga Luar dan Tengah

      Ruang telinga tengah, mastoid, permukaan dalam membijana timpani dan tuba. Eustachius berasal dari kantong faring pertama. Perkembangan prgan ini dimulai pada minggu keempat dan berlanjut sampai minggu ke 30 fetus, kecuali pneumatisasi mastoid yang terus berkembang sampai pubertas. Osikel berasal dari mesoderm celah brankial pertama dan kedua, kecuali basis stapes yang berasal dari kapsul otik. Osikel berkembang mulai minggu kedelapan sampai mencapai bentuk- komplet pada minggu ke 26 fetus. Liang telinga luar berasal dari ektoderm celah brankial pertama.Membrana timpani mewakili membran penutup celah tersebut. Pada awalnya liang telinga luar tertutup sama sekali oleh suatu sumbatan jaringan padat, akan tetapi akan mengalami rekanalisasi.

Telinga tengah

 

  1. 4.      MANIFESTASI KLINIS

Labirintitis ditandai oleh awitan mendadak vertigo yang melumpuhkan, bisanya disertai mual dan muntah, kehilangan pendengaran derajat tertentu, dan mungkin tinnitus. Episode pertama biasanya serangan mendadak paling berat, yang biasanya terjadi selama periode beberapa minggu sampai bulan, yang lebih ringan. Pengobatan untuk labirintitis balterial meliputi terapi antibiotika intravena, penggantian cairan, dan pemberian supresan vestibuler maupun obat anti muntah. Pengobatan labirintitis viral adalah sintomatik dengan menggunakan obatantimuntah dan antivertigo.

  1. 5.      KLASIFIKASI

    1. Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum ( general ), dengan gejala fertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan labirinitis yang terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya vertigo saja / tuli saraf saja.
    2. Labirinitis terjadinya oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa. Terdapat dua bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus.
    3. Labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada labirinitis supuratif, sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi kerusakan yang ireversibel, seperti fibrosis dan osifikasi.

    Pada kedua bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang – kadang diperlukan juga drenase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian antibiotika yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik dengan atau tanpa kolesteatoma

 

  1. 6.      PATOFISIOLOGI

Kira – kira akhir minggu setelah serangan akut telinga dalam hampir seluruhnya terisi untuk jaringan gramulasi, beberapa area infeksi tetap ada. Jaringan gramulasi secara bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan permulaan. Pembentukan tulang baru dapat mengisi penuh ruangan labirin dalam 6 bulan sampai beberapa tahun pada 50 % kasus.          

 

  1. 7.      PEMERIKSAAN PENUNJANG

Fistula dilabirin dapat diketahui dengan testula, yaitu dengan memberikan tekanan udara positif ataupun nrgatif ke liang telinga melalui otoskop siesel dengan corong telinga yang kedap atau balon karet dengan bentuk elips pada ujungnya yang di masukan ke dalam liang telinga. Balon karet di pencet dan udara di dalamnya akana menyebabkan perubahan tekanan udara di liang telinga. Bila fistula yang terjadi masih paten maka akan terjadi kompresi dan ekspansi labirin membrane. Tes fistula positif akan menimbulkan ristamus atau vertigo. Tes fistula bisa negatif, bila fistulanya bisa tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati atau paresis kanal.
    Pemeriksaan radiologik tomografi atau CT Scan yang baik kadang – kadang dapat memperlihatkan fistula labirin, yang biasanya ditemukan dikanalis semisirkularis horizontal.
Pada fistula labirin / labirintis, operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dan menutup fistula, sehingga fungsi telinga dalam dapat pulih kembali. Tindakan bedah harus adekuat untuk mengontrol penyakit primer. Matriks kolesteatom dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai bersih dan didaerah tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat / sekeping tulang / tulang rawan.

 

  1. 8.    PENATALAKSANAAN

       Terapi local harus ditujukan kesetiap infeksi yang mungkin ada, diagnosa bedah untuk eksenterasi labirin tidak diindikasikan, kecuali suatu focus dilabirin untuk daerah perilabirin telah menjalar untuk dicurigai menyebar ke struktur intrakronial dan tidak memberi respons terhadap terapi antibiotika bila dicurigai ada focus infeksi di labirin atau di ospretosus dapat dilakukan drerase labirin dengan salah satu operasi labirin setiap skuestrum yang lepas harus dibuang, harus dihindari terjadinya trauma NUA. Bila saraf fosial lumpuh, maka harus dilakukan dengan kompresi saraf tersebut. Bila dilakukan operasi tulang temporal maka harus diberikan antibiotika sebelum dan sesudah operasi

 

  1. 9.      KOMPLIKASI

Tuli total atau meningitis.

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

 

  1. 1.      PENGKAJIAN

Meliputi identitas klien yaitu : nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama, pendidikan,  tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, No. RM, diagnose medis, alamat dan rencana terapi.

1.1  RIWAYAT KESEHATAN

  1. Riwayat penyakit Dahulu

Apakah pasien pernah mengalami Riwayat kesehatan masa lalu yang berhubungan degan gangguan pendengaran karena benda asing,biasanya kebiasaan dan kecerobohan membersihkan telinga yang tidak benar  atau klien suka berenang dapat mempengaruhi penyakit ini

 

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

          Penderita biasanya mengeluhkan mual dan muntah, kehilangan pendengaran derajat tertentu, dan mungkin tinnitus. Episode pertama biasanya serangan mendadak paling berat, yang biasanya terjadi selama periode beberapa minggu sampai bulan, yang lebih ringan .

 

  1. Riwayat Penyakit Keluarga.

                 Apakah ada keluarga klien yang menderita penyakit ini seperti klien saat

ini atau apakah ada riwayat infeksi saluran atas atau riwayat elergi keluarga.

 

1.2     PEMERIKSAAN FISIK

        A.Kaji keadaaan umum:kaji tingkat kesadaran,berat badan dan tinggi badan klien.

                                        Dan kaji tanda-tanda vital klien.

1.KEPALA

    Amati bentuk kepala apakah ada oedema,dan amti apakah ada kondisi luka(jahitan)

  1. Rambut

Biasanya rambut klien tidak bersih, rontok dan dikepala tidak ada pembengkakan.

  1. Wajah

Biasaya wajah pasien kelihatan pucat karna adanya nyeri

 

 

  1. Mata

Biasanya kedua mata klien simetris,reflek cahaya baik, dan konjungtiva biasanya anemis,biasanya palpebra klien tdak udema,skelera tdak ikterik,pupil isokor

                                                                                                      

  1. Telinga

Biasanya telinga klien Terjadi tuli total disisi yang sakit, vertigo ringan nistagmus spontan biasanya kea rah telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan atau sampai sisa labirin yang berfungsi dapat menkompensasinya. Biasanya klien merasakan nyeri dan klien kurang mendengar respon dari pendengaran.

  1. Hidung

Biasanya klien tidak ada mengeluh dengan masalah hidung.

  1. Bibir

Biasanya bibir pasien tampak pucat dan kering.

  1. GigI

 Biasanya kelengkapan gigi, kondisi gigi klien tampak normal dan biasanya    kebersihan gigi  kurang.

  1. Lidah

Biasanya tampak normal tdakkotor,tdak hiperik

 

  1. LEHER

         Biasanya leher pada klien penyakit labirinitis  ini tampak normal saja

 

  1. DADA
    1. Inspeksi

Biasanya bentuk dan kesemetrisan rongga dada tampak normal. Biasanya klien tampak susah bernafas / mengatur jalannya nafas dada,frekwensi nafas 12 sampai 20 X permeni,tidak dyspnea.

 

  1. Palpasi

Biasanya normal,biasanya dgn menggunakan getaran vocal yg dsebut vocal primitus

 

  1. Perkusi

Biasanya bunyi ketukan pada dinding dada dan bunyi dada normal jaringan sonor

  1. Auskultasi

Biasanya tidak ada terdengar bunyi tambahan pada saat klien melakukan insipirasi dan ekspirasi.

 

 

 

   4. JANTUNG

       1. inspeksi : biasanya ictus cordis tampak normal terlihat pada ICS -5

       2. palpasi   : biasanya lokasi ictus cordis teraba normal tidak lebih dri 1cm

       3. perkusi   : biasanya batas-batas jantung klien pada penyakit ini normal

       4. auskultasi : biasanya irama denyutan jantung terdengar normal

 

5. ABDOMEN

            1.Inspeksi    : biasanya tidak adanya pembesaran rongga abdomen

            2.Auskultasi : biasanya bunyi bising usus terdengar frekuensinya tidak normal karna klien mengalami penurunan nafsu makan

3.Palpasi     : biasanya teraba normal saja

4. Perkusi    : biasanya bunyi ketukannya terdengar normal

6.  GENITOURINARIA

            Biasanya klien tidak ada terpasang kateter

  1. EKSTREMITAS

           Biasanya kekuatan otot kurang dari normal akibat klien terasa letih menahan nyeri dan biasanya ekstremitas atas terpasang infus untuk menambah cairan dalam tubuh klien karna nafsu makan klien berkurang dan biasanya kekuatan otot klien ini menurun.

  1. SISTEM INTEGUMEN

Biasanya warna kulit klien tampak pucat dan biasanya suhu kulit meningkat

 

  1. SISTEM NEUROLOGI

       Biasanya sistem neuro pada klien penyakit  ini normal saja

 

 

9. DATA POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI

  1. Nutrisi

 

kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

1.Selera makan

 

2.Frekuensi makan

 

 

3.Makanan pantangan

 

 

 

 

4.Pembatasan pola makan

Biasanya klien mempunyai nafsu makan yang tinggi.

Biasanya klien makan 3x sehari.

 

 sbelum sakit klien sering minum yang dingin dan makan makanan yang pedas-pedas.

Sebelum sakit pola makan klien tidak teratur.

Biasanya nafsu makan klien menurun.

Biasanya klien makan 1x sehari karna tidak adanya nafsu makan.

Saat sakit klien tidak ada lagi makan makanan pamntangan.

 

Saat sakit pola makan klien di atur

 

  1. Eliminasi (BAB & BAK)

kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

– BAB

1. frekuensi (waktu)

 

 

  2.Kesulitan

 

  3.Obat pencahar

 

 

–     BAK

  1. Frekuensi

 

 

  1. Warna dan bau

 

Biasanya pagi dan sore.

 

 

Biasanya seblm skit tdk ada kesulitan.

Biasanya tidak menggunakan obat pencahar

 

 

Biasanya 5x sehari

 

 

Biasanya warnanya kuning kejernihan dan berbau amis

 

Saat sakit frekuensinya biasnya berkurang,kadang2 tdk ada.

Biasanya terjadi defekasi.

 

Biasanya kadang2 menggunakan obat pencahar

 

 

Biasanya saat sakit BAK sering karna penambahan cairan melalui infus.

Biasanya warnanya kuning kejernihan dan berbau amis,kadang berbau obat,klien yg mengonsumsi obat antibiotik biasnya urine nya berbau obat itu.

 

  1. Istirahat dan tidur

kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

  1. Jam tidur

–          Siang

 

 

–          Malam

 

  1. Kesulitan tidur

 

Biasanya jarang tidur siang karna kesibukan di luar rumah.

Biasanya tidur malam klien teratur.

Biasanya klien tidak mengalami kesulitan tidur

 

Biasnya sering tidur siang karna klien hanya berbaring di tempat tidur.

Biasnya klien susah tidur malam.

Biasanya klien mengalami kesulitan tidur karna kondisi penyakitnya.

 

  1. Aktifitas sehari-hari dan perawatan diri

kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

1. Kegiatan sehari-hari

 

 

 

  1. Perawatan diri

Klien sibuk dan menghabiskan waktu d luar rumah karna pekerjaan.

 

Perawatn dri klien biasanya teratur dan bersih.

Klien hanya istirahat di tempat tidur.

 

 

Perawtan diri klien berkurang, hygine klien berkurang.

 

10.DATA SOSIAL EKONOMI

Biasanya jika klien masih remaja dan orangtua klien sebagai PNS, biasanya yang menbiayai pengobatan klien orangtua, dan biasanya mengalami masalah keuangan karna biaya penginapan RS dan pengobatan klien selama di RS.

 

11.DATA PSIKOSOSIAL

Biasanya psikologis klien terganggu selama di rawar di RS karna sakit yang di deritanya dan ketidaknyamanan,biasanya klien mempunyai harapan cepat sembuh dan ingin pulang dan adanya kemampuan mekanisme koping dalam keluarga klien.

 

12.DATA SPIRITUAL

Biasanya pelaksanaan ibadah klien tidak sama dengan pelaksanaan ketika klien masih sehat,klien sholat hanya berbaring di atas tempat tidur karna klien tidak mampunya untuk shnolat berdiri, dan biasanya klien merasakan beban yang sangat berat atas  kondisinya saat ini.

 

 

  1. 3.      DIAGNOSA KEPERAWATAN

a)      Ketidak berdayaan yang berbeda persoalan penyakit dan menjadi tidak berdaya dalam situasi

b)     Resiko terhadap trauma yang kesulitan keseimbangan

c)      Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berbeda dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mendengar ketidak ada ikutannya mengikuti instruksi.

  1. 4.      INTERVENSI

 

NO

DIAGNOSA

TUJUAN

INTERVENSI

1

 Ketidak berdayaan yang berbeda persoalan penyakit dan menjadi tidak berdaya dalam situasi tertentu akibat gangguan keseimbangan

Klien mengalami peningkatan perasaan control terhadap kehidupan dan aktivitas meskipun tertentu akibat gangguan keseimbangan

1) Kaji kebutuhan, nilai, perilaku dan kesiapan pasien untuk memulai aktivitas.
2) Beri kesempatan bagi pasien mengidentifikasi perilaku koping yang berhasil sebelumnya.
3) Bantu pasien mengindentifikasi perilaku koping yang berhasil sebelumnya

2

Resiko terhadap trauma yang kesulitan keseimbangan

mengurangi resiko trauma dengan mengadaptasi lingkungan rumah dan menggunakan alat rehabilitasi bila perlu

1) Lakukan pengkajian untuk gangguan keseimbangan dengan menarik riwayat dan pemeriksaan adanya nistagmus Romberg positif dan ketidakmampuan melakukan Romberg tandem.
2) Bantu ambulasi bila ada indikasi.
3) Dorong peningkatan tingkat aktifitas dengan atau tanpa menggunakan alat Bantu

3

Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berbeda dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mendengar ketidak ada ikutannya mengikuti instruksi.

pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi efek procedur dan pengobatan.

1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
2) Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
3) Diskusikan penyebab individual

 

 

                                                                                                                            

  1. 5.      IMPLEMENTASI

Melaksanakan/ melakukan tindakan yang telah direncanakan sesuai dengan intervensi   untuk kesembuhan dan meningkatkan kesehatan klien.

  1. 6.      EVALUASI

Pada tahap ini perawat akan mengevaluasi atau melakukan pemeriksaan kembali untuk mengetahui sejauh manakah perkembangan terhadap pasiennya serta untuk mengetahui apakah intervensi dan implementtasi telah tercapai atau belum.

Yang terdiri dari SOAP( subjek,objektif,analisa dan plening)

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

 

4.1       Kesimpulan

 

Labirinitis adalah inflamasi telinga dalam dan dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus.

Labirinitis pada dasarnya di kenal dua macam dan dengan gejala yang berbeda, labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis umum ( general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang mengenai hanya sebagian atau terbatas disebut labirinitis terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja. Labirinitis adalah inflamasi telinga dalam dan dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus

4.2       Saran

 

Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa dan dapat diterapkan

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s